Tak Sekadar Padi dan Jagung, BupAAS Siap Bawa Bone Menuju Sentra Peternakan Terintegrasi: Investasi Capai 627 Miliar



BONEWANUAKKU.COM, BONE—Pemerintah  Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mulai membidik sektor peternakan terintegrasi sebagai kekuatan ekonomi baru setelah komoditas padi dan jagung, dengan menyiapkan pengembangan investasi yang nilainya mencapai Rp627 miliar.

Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, mendorong agar pengembangan peternakan tidak berhenti pada peningkatan populasi ternak. Pemerintah daerah ingin membangun ekosistem peternakan dari sektor hulu hingga hilir, terutama untuk komoditas sapi Bali dan ayam.

Langkah tersebut diperkuat melalui studi tiru yang dilakukan Bupati Bone bersama jajaran Dinas Peternakan di Bali. Dalam kunjungan itu, rombongan melihat secara langsung pengelolaan sapi Bali dan peternakan ayam yang telah dikembangkan dengan sistem terintegrasi.

Menurut Andi Asman, pengalaman Bali menjadi salah satu referensi penting bagi Bone untuk membangun industri peternakan yang lebih modern, produktif, dan memiliki nilai tambah.

“Bone memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi salah satu daerah penyangga komoditas daging nasional. Bahkan ke depan kita ingin berkontribusi terhadap kebutuhan pasar ekspor,” kata BupAAS. 

Bupati Bone menegaskan, pemerintah daerah ingin mengubah pola pengembangan peternakan dari sekadar meningkatkan jumlah ternak menjadi pembangunan industri peternakan yang terintegrasi.

Mulai dari pembibitan, pemeliharaan, pakan, teknologi, manajemen produksi hingga proses hilirisasi, seluruh rantai tersebut dinilai perlu dibangun secara berkelanjutan.

“Studi tiru yang kami lakukan bersama Dinas Peternakan di Bali menjadi bagian penting untuk melihat secara langsung bagaimana pembibitan, pengelolaan peternakan, penerapan teknologi hingga sistem hilirisasinya,” jelasnya.

Rencana investasi senilai Rp627 miliar pun dinilai menjadi momentum untuk mempercepat transformasi tersebut.

Bagi Pemkab Bone, investasi tersebut bukan hanya soal pembangunan usaha peternakan berskala besar. Kehadirannya diharapkan ikut menggerakkan ekonomi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan peternak, penguatan usaha lokal, hingga transfer teknologi dan pengetahuan.

“Kita ingin Bone tidak hanya menjadi daerah penghasil ternak, tetapi menjadi daerah yang mampu mengelola komoditas peternakan secara utuh, memiliki daya saing dan menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan daging nasional maupun peluang pasar ekspor,” tegas Andi Asman.

Plt. Kepala Dinas Peternakan Bone, Andi Herman, mengatakan studi tiru di Bali memberikan banyak pembelajaran mengenai pengelolaan peternakan modern.

Menurutnya, rombongan melihat langsung bagaimana sapi Bali dan peternakan ayam dikelola mulai dari pembibitan hingga hilirisasi.

“Kami melihat langsung bagaimana pengelolaan sapi Bali dan peternakan ayam dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pembibitan, pemeliharaan, pakan, manajemen produksi hingga hilirisasi,” ujar Andi Herman.

Ia menilai Bone memiliki modal besar untuk mengembangkan sektor tersebut, baik dari sisi sumber daya, ketersediaan lahan maupun dukungan masyarakat.

Dengan rencana investasi Rp627 miliar, Dinas Peternakan Bone optimistis sektor peternakan dapat mengalami lompatan signifikan.

Namun, pemerintah daerah memastikan investasi tersebut harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama peternak lokal.

“Kami siap mengawal agar investasi yang masuk benar-benar memberikan dampak kepada masyarakat, khususnya peternak lokal. Kita ingin terjadi transfer teknologi dan pengetahuan, peningkatan kualitas SDM peternak serta terbentuk kemitraan yang saling menguntungkan,” katanya.

Ke depan, target pengembangan peternakan Bone bukan hanya meningkatkan populasi dan produksi ternak. Pemerintah daerah ingin membangun ekosistem peternakan terintegrasi yang mampu menghasilkan produk berkualitas sekaligus memiliki nilai tambah ekonomi.

Jika rencana tersebut berjalan sesuai target, Bone berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra peternakan di kawasan timur Indonesia.

Dari daerah penghasil ternak, Bone kini mulai diarahkan menjadi daerah yang mampu mengelola produksi, pengolahan, hingga pemasaran komoditas peternakan.

Dengan dukungan investasi Rp627 miliar, ambisi Bone pun semakin besar: bukan hanya memenuhi kebutuhan daging di dalam negeri, tetapi membuka jalan menuju pasar ekspor. (*)