Tinjau Pedalaman Bontocani, Dandim Bone Pastikan Jembatan TMMD Permudah Akses Sekolah Anak-anak



BONEWANUAKKU.COM, BONE  —  Perjuangan anak-anak Dusun Lemo, Desa Pattuku, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, untuk mengenyam pendidikan mendapat perhatian serius dari Komandan Kodim 1407/Bone, Letkol Inf Laode Muhammad Idrus. Ia turun langsung meninjau medan berat yang setiap hari dilalui para pelajar menuju sekolah, Jumat (26/6/2026).

Perjalanan menuju Dusun Lemo bukanlah perjalanan biasa. Dari Kota Watampone, rombongan harus menempuh jarak sekitar 113 kilometer melalui jalur Bone–Sinjai yang dipenuhi tanjakan curam, tikungan tajam, serta jurang di sisi jalan. Setibanya di Desa Pattuku, perjalanan dilanjutkan menggunakan sepeda motor melewati jalan setapak berbatu yang membelah kawasan hutan hingga tiba di Dusun Lemo.

Dusun yang dihuni sekitar 58 kepala keluarga atau 231 jiwa itu selama ini bergantung pada sebuah jembatan bambu sederhana sebagai akses utama melintasi sungai. Jembatan tersebut menjadi jalur yang setiap hari digunakan anak-anak untuk berangkat ke sekolah.

Salah satunya adalah Annisa, siswi yang akan melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah. Setiap hari ia harus bangun pukul 05.00 Wita agar bisa berjalan kaki sekitar dua kilometer menuju sekolah bersama teman-temannya.

Di tengah perjalanan, mereka harus menyeberangi sungai melalui jembatan bambu yang dibangun secara swadaya oleh warga. Saat musim hujan tiba, kondisi menjadi jauh lebih sulit. Jalan berubah menjadi lumpur licin, sementara arus sungai semakin deras sehingga membahayakan keselamatan.

"Kalau saya bangun jam lima subuh dan jalan kaki ke sekolah bersama teman-teman," ujar Annisa.
Untuk menjaga sepatu sekolahnya tetap bersih, Annisa memilih memakai sandal selama perjalanan. Sepatu baru dikenakannya setelah tiba di sekolah.

Saat Dandim Bone meninjau lokasi, Annisa tampak memperhatikan titik yang akan dibangun jembatan permanen melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Baginya, jembatan tersebut bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan harapan agar dirinya dan teman-temannya dapat berangkat ke sekolah dengan lebih aman.

"Kalau air naik kami lewat jembatan bambu. Saya tidak takut karena sudah terbiasa," katanya.
Selama ini, apabila sungai tidak dapat dilintasi, warga terpaksa memutar jalan sejauh lima hingga enam kilometer.

Melihat langsung kondisi tersebut, Letkol Inf Laode Muhammad Idrus memastikan Dusun Lemo menjadi salah satu sasaran utama program TMMD. Menurutnya, wilayah tersebut termasuk kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang membutuhkan perhatian, terutama dalam membuka akses transportasi masyarakat.
"Kita lihat ini daerah tempat jembatan yang menjadi sasaran kedua TMMD. Saya melihat ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya Pattuku yang berada di wilayah Bontocani," ujarnya.

Ia menjelaskan, pembangunan jembatan akan segera dimulai. Material utama seperti angkur dan pilar telah tiba di Kabupaten Bone setelah dikirim dari Jakarta.

"Dalam dua sampai tiga hari ke depan kita mulai bangun tangganya. Angkur dan pilarnya sudah ada di Bone. Setelah dipasang nanti kita lakukan pengecoran dan menunggu sekitar 21 hari," jelasnya.

Selain membangun jembatan, personel TMMD juga akan membuka akses jalan sehingga kendaraan roda dua nantinya dapat melintas hingga ke permukiman warga.

Menurut Dandim, kehadiran jembatan tersebut akan memangkas jarak tempuh masyarakat secara signifikan. Jika selama ini warga harus memutar lima hingga enam kilometer saat banjir, nantinya perjalanan hanya sekitar satu kilometer dan bisa dilalui kendaraan.

"Kalau jembatan ini sudah selesai, masyarakat bisa menggunakan kendaraan dan jaraknya tinggal sekitar satu kilometer. Anak-anak ke sekolah juga akan lebih dekat lewat sini," ungkapnya.

Pembangunan jembatan ini diharapkan menjadi awal perubahan bagi masyarakat Dusun Lemo. Lebih dari sekadar infrastruktur, jembatan itu menjadi simbol hadirnya harapan baru agar anak-anak pedalaman Bone tidak lagi mempertaruhkan keselamatan setiap pagi demi menggapai cita-cita melalui pendidikan. (*)