BONEWANUAKKU.COM, BONE — Tradisi sakral Mattompang Arajang dalam rangka Hari Jadi Bone (HJB) ke-696 kembali digelar penuh khidmat, di kompleks rumah Jabatan Bupati Bone, Senin (6/4) menjadi simbol kuat pelestarian budaya sekaligus penguatan komitmen pembangunan daerah.
Prosesi pembersihan benda pusaka kerajaan (arajang) dimaknai tidak hanya sebagai pembersihan fisik, tetapi juga simbol penyucian jiwa, pemurnian niat, serta penguatan tanggung jawab dalam membangun daerah.
Dalam kearifan lokal masyarakat Bugis, arajang memiliki makna mendalam yang mencerminkan nilai kepemimpinan seperti kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab.
Momentum ini pun menjadi refleksi bersama untuk mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan, dan menjadi manifestasi penghormatan terhadap sejarah, nilai luhur, dan jati diri masyarakat Bone.
Bupati Bone Andi Asman Sulaiman menekankan tradisi mattompang Arajang bukan sekedar seremoni belaka namun menjadi komitmen bagaimana membangun Bone di berbagai bidang.
"Pemerintah daerah juga mengajak seluruh masyarakat, termasuk tokoh-tokoh Bone di berbagai bidang, untuk terus bersinergi menghadapi tantangan pembangunan, mulai dari infrastruktur, ekonomi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
"Melalui momentum ini, diharapkan tradisi Mattompang Arajang bukan hanya sekedar seremoni, tetapi juga menjadi titik awal memperkuat semangat kebersamaan dalam mewujudkan Bone yang mandiri, berkeadilan, dan berkelanjutan," pungkasnya.
Pada kesempatan itu, Pemerintah Kabupaten Bone turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan atas dukungan anggaran sebesar Rp50 miliar pada tahun 2025.
Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, perencanaan masjid di eks Bola Soba, serta pemberdayaan UMKM. Hingga saat ini, realisasi pembangunan terus berjalan dengan capaian kontrak Rp48,38 miliar dan progres penyerapan 36,5 persen.
Mengusung tema “To Masseddi Patarompoi Wanua Bone” dengan semangat “Tumbuh Berdaya, Melaju”, peringatan HJB tahun ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu, saling menguatkan, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Nilai tersebut sejalan dengan filosofi Bugis seperti sipakatau, sipakainge, dan sipakalebbi yang selama ini menjadi fondasi harmoni sosial di Bone. (*)
