![]() |
| Siswa-siswi SMP Islam Athurah Bone dalam kegiatan Impact 2026 |
BONEWANUAKKU.COM, BONE — Pagi belum sepenuhnya terjaga ketika langkah-langkah kecil para siswa kelas IX SMP Islam Athirah Bone mulai menyusuri jalan desa. Matahari perlahan naik, menyibak kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan. Namun hari itu, mereka tidak sekadar datang sebagai tamu. Mereka hadir sebagai pembelajar kehidupan.
Selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu (15–17 Januari 2026), ruang belajar mereka berpindah. Tak ada bangku kelas atau papan tulis. Yang ada hanyalah rimbun pepohonan Kelurahan Pappolo, sejuknya Desa Kading, hamparan sawah Desa Barugae, sunyinya Desa Matampa, hingga keramahan warga Desa Kampala, Kabupaten Sinjai. Inilah IMPACT 2026 (Immersion Program for Action & Character Building), sebuah perjalanan sunyi untuk menemukan makna menjadi manusia seutuhnya.
Di desa-desa itu, pelajaran tidak datang dari buku, melainkan dari kehidupan yang berdetak apa adanya. Para siswa berbagi cerita dengan santri TKA, membantu warga dengan tangan sendiri, dan merasakan peluh yang jatuh di tengah kerja bakti. Setiap senyum warga, setiap salam yang terucap, menjadi cermin bagi mereka untuk belajar tentang empati dan kepedulian sosial.
“Program ini bukan sekadar kegiatan luar sekolah. Kami ingin siswa memiliki kepekaan sosial yang tajam, bukan hanya kecerdasan akademik,” ujar Wakil Direktur Sekolah Islam Athirah Wilayah III dalam sambutannya.
Pesan yang berulang kali ditekankan adalah soal adab. Di setiap langkah, para siswa diingatkan bahwa mereka membawa nama Athirah—sebuah identitas yang harus tercermin dalam sikap santun, empati, dan kepedulian. Adab, kata beliau, harus selalu berada di atas segalanya.
Yang membedakan IMPACT 2026 dari kegiatan serupa adalah penugasan yang tak biasa. Para siswa diminta menjadi “pendengar setia”. Mereka duduk bersimpuh di hadapan para tetua desa, menyimak kisah hidup, dan mencatat petuah-petuah yang lahir dari perjalanan panjang penuh kesabaran.
Di tengah derasnya arus digital, nasihat para orang tua desa menjadi jangkar kearifan lokal yang kokoh. Catatan kecil di buku saku para siswa itu kelak akan menjadi harta karun—tentang filosofi hidup, keteguhan hati, dan nilai-nilai yang tak selalu diajarkan di ruang kelas formal.
Sebaran lokasi kegiatan yang mencakup sejumlah desa di Kabupaten Bone dan Kabupaten Sinjai menunjukkan kesungguhan SMP Islam Athirah Bone untuk hadir dan belajar langsung dari masyarakat. Bukan sekadar berkunjung, melainkan menyatu dan memahami.
Melalui IMPACT 2026, para siswa kelas IX ini sedang menorehkan kisah perjalanan hidupnya sendiri. Bahwa sebelum meninggalkan bangku SMP dan melangkah ke jenjang berikutnya, mereka pernah berdiri di sebuah desa, menjabat tangan warga, mendengar kisah para tetua, dan pulang membawa satu pelajaran paling mendasar: menjadi manusia adalah tentang seberapa besar manfaat yang mampu kita berikan kepada sesama. (*)
